Hadis tentang Bahaya Menuduh Zina dan Kezaliman terhadap Sesama yang Menyebabkan Kebangkrutan di Akhirat
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاتِهِ وَصِيَامِهِ وَزَكَاتِهِ، وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا, وَقَذَفَ هَذَا, وَأَكَلَ مَالَ هَذَا, وَسَفَكَ دَمَ هَذَا, وَضَرَبَ هَذَا, فَيُقْعَدُ فَيُقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ, وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ, فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْتَصَّ مَا عَلَيْهِ مِنَ الْخَطَايَا أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ. (رواه البخاري: ٢٤١٨)[١]
Terjemahan
Hadis dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda." Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dalam keadaan pernah mencaci seseorang, menuduh seseorang (dengan tuduhan zina), memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika pahala-pahalanya habis sebelum seluruh kezalimannya dibalas, dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka." (HR al-Bukhari: 2418).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa kebangkrutan yang sesungguhnya bukanlah kehilangan harta di dunia, melainkan kehilangan pahala di akhirat akibat menzalimi orang lain. Salah satu bentuk kezaliman yang disebutkan secara tegas adalah menuduh seseorang berzina (qadzaf) tanpa bukti yang sah. Tuduhan seperti ini merupakan dosa besar karena merusak kehormatan dan martabat seseorang. Walaupun seseorang memiliki banyak amal ibadah seperti salat, puasa, dan zakat, semua pahala tersebut dapat berpindah kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Jika pahalanya telah habis, dosa-dosa orang yang dizaliminya akan dipindahkan kepadanya hingga akhirnya ia mendapat azab. Hadis ini menjadi peringatan agar setiap Muslim menjaga lisan, kehormatan orang lain, dan menjauhi segala bentuk fitnah, termasuk tuduhan zina tanpa bukti, karena hak sesama manusia akan dipertanggungjawabkan secara sempurna di hadapan Allah pada hari kiamat.
Referensi
- Ṣaḥīḥ Muslim, karya Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Naysābūrī, tahqiq Muḥammad Fu'ād 'Abd al-Bāqī (Beirut: Dār Iḥyāʾ al-Turāth al-'Arabī, t.t.), jilid 4, Kitāb al-Birr wa al-Ṣilah wa al-Ādāb, Bāb Taḥrīm al-Ẓulm, hadis No. 2581, hlm. 1997.

Komentar 0