Hadis Tentang Berkata Baik atau Diam
Hadis
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت( رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)(٦٠١٨)
Terjemahan
dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.(HR. al-Bukhori, No 6018).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir harus tercermin dalam akhlak yang mulia. Rasulullah SAW mengaitkan keimanan dengan tiga perilaku utama yang menjadi dasar hubungan seorang muslim dengan sesama manusia. seorang mukmin dilarang menyakiti tetangganya, baik dengan ucapan, perbuatan, maupun sikap yang merugikan. Menjaga hak tetangga merupakan salah satu bentuk pengamalan iman dan termasuk akhlak yang sangat ditekankan dalam Islam. Sebaliknya, menyakiti tetangga merupakan perbuatan tercela yang dapat mengurangi kesempurnaan iman seseorang.Kedua, seorang mukmin diperintahkan untuk memuliakan tamunya. Memuliakan tamu dapat dilakukan dengan menyambutnya dengan ramah, memberikan jamuan sesuai kemampuan, berbicara dengan sopan, serta memperlakukannya dengan penuh hormat. Sikap ini mencerminkan kemurahan hati, kepedulian sosial, dan akhlak mulia yang diajarkan oleh Rasulullah SAW .Ketiga, seorang mukmin hendaknya menjaga lisannya dengan hanya mengucapkan perkataan yang baik dan bermanfaat. Apabila tidak memiliki sesuatu yang baik untuk diucapkan, maka lebih utama baginya untuk diam. Perkataan yang baik meliputi ucapan yang benar, santun, bermanfaat, mengandung nasihat, zikir, dan segala bentuk komunikasi yang mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, ucapan yang mengandung dusta, ghibah, fitnah, namimah, celaan, atau menyakiti orang lain harus dihindari. Hadis ini juga menunjukkan bahwa menjaga lisan merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Banyak perselisihan, permusuhan, dan kerusakan dalam kehidupan bermula dari ucapan yang tidak dijaga. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk berpikir sebelum berbicara serta mempertimbangkan manfaat dan mudarat dari setiap perkataan yang akan diucapkannya. Secara keseluruhan, hadis ini mengajarkan bahwa iman tidak hanya diwujudkan dalam ibadah kepada Allah, tetapi juga dalam perilaku sosial yang baik, yaitu tidak menyakiti tetangga, memuliakan tamu, serta menjaga lisan dengan mengucapkan perkataan yang baik atau memilih diam apabila tidak ada kebaikan yang dapat disampaikan.
Referensi
1.Muhammad ibn Isma'il al-Bukhari. Ṣaḥīḥ al-Bukhorī. Kitāb al-Adab, Bāb Man Kāna Yu'minu Billāhi wal-Yaum al-Ākhir Fal Yaqul Khairan Aw Liyaṣmut, Hadis No. 6018.

Komentar 0