Hadis tentang Tanggung Jawab atas Ucapan
Hadis
عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَعُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ لِي يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى قَالَ حَكِيمٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنْ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَرَ)وَاهُ الْبُخَارِيُّ) )٢٩١٠)
Terjemahan
Dari Sa'id bin al-Musayyib dan 'Urwah bin az-Zubair, bahwa Hakim bin Hizam RA berkata: Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW , lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, maka beliau memberiku lagi. Setelah itu beliau bersabda kepadaku: Wahai Hakim sesungguhnya harta ini hijau menarik dan manis menggiurkan. Barang siapa mengambilnya dengan hati yang lapang (tanpa tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Tetapi barang siapa mengambilnya dengan hati yang selalu menginginkannya rakus dan tamak, maka harta itu tidak akan diberkahi baginya. Ia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah Hakim berkata, "Lalu aku berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun kepada siapa pun setelah engkau hingga aku meninggalkan dunia wafat.Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar RA pernah memanggil Hakim untuk memberikan bagian pemberiannya, tetapi ia menolak menerima sesuatu pun darinya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberikan haknya, namun ia tetap menolak menerimanya. Maka Umar berkata Ra , Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya aku telah menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai', tetapi ia menolak mengambilnya.Maka sejak wafatnya Nabi SAW , Hakim bin Hizam tidak pernah meminta sesuatu pun kepada seorang manusia hingga beliau wafat) HR al-Bukhori No Hadis 2910)
Isi Kadungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa harta dunia memiliki daya tarik yang besar sehingga setiap Muslim harus berhati hati agar tidak terjerumus ke dalam sifat tamak. Harta yang diperoleh dengan hati yang qana'ah, lapang dada, dan tanpa keserakahan akan mendatangkan keberkahan, sedangkan harta yang diperoleh dengan penuh ambisi dan keinginan yang berlebihan tidak akan membawa keberkahan. Orang yang rakus terhadap harta diibaratkan seperti orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang karena selalu merasa kurang. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang meminta atau menerima. Hakim bin Hizam RA memberikan teladan dengan bertekad tidak meminta sesuatu kepada siapa pun setelah menerima nasihat Rasulullah SAW. Hadis ini juga mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan diri, bersikap qana'ah, bekerja mencari rezeki yang halal, serta menyadari bahwa keberkahan harta tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi oleh cara memperolehnya dan sikap hati terhadapnya.
Referensi
1.Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb az-Zakāh, Bāb Al-Isti‘fāf ‘an al-Mas'alah Hadis No. 2910 (penomoran Fatḥ al-Bārī).

Komentar 0