Hadis tentang Menyela Jari dalam Wudhu sebagai Penyempurna Thaharah
Hadis
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يُقَالُ لَهُ إِنَّهُ يُسْتَقَى لَكَ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِىَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا لُحُومُ الْكِلاَبِ وَالْمَحَايِضُ وَعَذِرُ النَّاسِ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم« إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَسَمِعْتُ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ قَالَ سَأَلْتُ قَيِّمَ بِئْرِ بُضَاعَةَ عَنْ عُمْقِهَا قَالَ أَكْثَرُ مَا يَكُونُ فِيهَا الْمَاءُ إِلَى الْعَانَةِ. قُلْتُ فَإِذَا نَقَصَ قَالَ دُونَ الْعَوْرَةِ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَقَدَّرْتُ أَنَا بِئْرَ بُضَاعَةَ بِرِدَائِى مَدَدْتُهُ عَلَيْهَا ثُمَّ ذَرَعْتُهُ فَإِذَا عَرْضُهَا سِتَّةُ أَذْرُعٍ وَسَأَلْتُ الَّذِى فَتَحَ لِى بَابَ الْبُسْتَانِ فَأَدْخَلَنِى إِلَيْهِ هَلْ غُيِّرَ بِنَاؤُهَا عَمَّا كَانَتْ عَلَيْهِ قَالَ لاَ. وَرَأَيْتُ فِيهَا مَاءً مُتَغَيِّرَ اللَّوْنِ. (رواه ابو داود: ٦٧)[1]
Terjemahan
Hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW, ketika dikatakan kepada ia: sesungguhnya diambilkan untukmu air dari sumur budha’ah, yaitu sumur yang di dalamnya dibuang daging anjing, kain haid, dan kotoran manusia, maka Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya. Abu Dawud berkata: aku mendengar Qutaibah bin Sa’id berkata: aku bertanya kepada penjaga sumur budha’ah tentang kedalamannya, ia berkata: airnya paling tinggi sampai pinggang aku berkata: jika berkurang? ia berkata: di bawah aurat. Abu Dawud berkata: aku sendiri telah mengukur sumur budha’ah dengan selendangku, lalu aku bentangkan di atasnya kemudian aku ukur, ternyata lebarnya enam hasta. Aku juga bertanya kepada orang yang membukakan pintu kebun untukku, apakah bangunannya telah berubah dari sebelumnya? ia menjawab: tidak, dan aku melihat airnya berubah warna. (HR Abu Dawud: 67)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa hukum asal air adalah suci dan dapat digunakan untuk bersuci, meskipun terdapat benda-benda kotor yang jatuh ke dalamnya, selama tidak mengubah sifat air seperti warna, bau, dan rasa. Penjelasan tentang sumur budha’ah menunjukkan kondisi nyata di lapangan yang mungkin dianggap kotor, namun Rasulullah SAW tetap memberikan kemudahan hukum. Selain itu, hadis ini menjadi dasar kaidah fiqih penting dalam thaharah, yaitu menghindari sikap berlebihan (was-was) dalam menilai najis. Islam memberikan batasan yang jelas dan rasional, sehingga umat tidak dipersulit dalam beribadah dan tetap bisa menjaga keseimbangan antara kebersihan dan kemudahan.
Referensi
- Al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‘ats as-Sijistani, Sunan Abi Dawud, (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), juz 1, bab 34, no hadis 67, h. 62-64.

Komentar 0