Hadis tentang Thaharah dari Haid dengan Wewangian
Hadis
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِهَا مِنْ الْمَحِيضِ فَأَمَرَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ قَالَ خُذِي فِرْصَةً مِنْ مَسْكٍ فَتَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهَّرُ قَالَ تَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِي فَاجْتَبَذْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ (رواه البخارى: ٣٠٨)[1]
Terjemahan
Hadis dari Aisyah, bahwa seorang wanita bertanya kepada Nabi SAW tentang mandi setelah haid, maka Nabi mengajarkannya bagaimana cara mandi tersebut. Nabi bersabda: ambillah sepotong kapas atau kain yang diberi minyak kasturi, lalu bersucilah dengannya. Perempuan itu bertanya, bagaimana aku bersuci dengannya? Nabi menjawab, bersucilah dengannya. Perempuan itu bertanya lagi, bagaimana caranya? Nabi bersabda, Subḥanallah Bersucilah dengannya. Lalu aku menarik perempuan itu ke arahku dan berkata, usapkanlah kapas atau kain itu pada bekas darah di tempat keluarnya darah. (HR al- Bukhari: 308)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tata cara bersuci dari haid secara lebih sempurna, termasuk anjuran menggunakan wewangian untuk menghilangkan bekas bau darah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menekankan kesucian secara hukum, tetapi juga kebersihan secara fisik dan kenyamanan. Hadis ini juga menunjukkan bolehnya seorang wanita bertanya tentang masalah pribadi kepada ahli ilmu demi memahami ajaran agama dengan benar, ini menjadi dalil bahwa mencari ilmu adalah kewajiban tanpa rasa malu dalam perkara yang memang perlu diketahui.
Referensi
- Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, al-Jami' al-Musnad as-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyamih, bab 13, no hadis 308 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), juz 1, h. 86.

Komentar 0