Hadis tentang Syirik sebagai Puncak Kezaliman
Hadis
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِيْ بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ اْلكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: اَلْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوْقُ اْلوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّوْرِ قَالَ فََمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ يَسْكُتُ. (رواه البخاري: ٢٥١١)[١]
Terjemahan
Hadis dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, ia berkata: Nabi SAW bersabda: maukah aku beritahukan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar? (beliau mengulanginya tiga kali) mereka berkata: tentu wahai Rasulullah SAW. Nabi SAW bersabda: menyekutukan Allah SWT dan durhaka kepada kedua orang tua. Kemudian beliau duduk (padahal sebelumnya bersandar), lalu bersabda: ingatlah, juga perkataan dusta. Perawi berkata: Nabi SAW terus mengulanginya sampai kami berkata: seandainya Nabi SAW berhenti. (HR al-Bukhari: 2511)
Hadis ini menegaskan bahwa syirik merupakan dosa terbesar dan puncak kezaliman karena menyekutukan Allah SWT. Selain itu, Nabi SAW juga mengingatkan agar setiap Muslim berbakti kepada kedua orang tua dan selalu berkata jujur, karena keduanya termasuk perkara yang sangat diperhatikan dalam Islam.
Referensi
- Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah sallallahu `Alaihi wa Sallam wa Sunani wa Ayyamih, Kitab Syahadat, Bab 10, Hadis nomor 2511, (Damaskus: Dar Ibn Kathir, 2002), h. 645.

Komentar 0