Hadis tentang Larangan Menyekutukan Allah SWT
Hadis
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ: أيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ؟ قَالَ: أَن تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ. قَالَ: قُلْتُ: إِنَّ ذَلِكَ لِعَظِيمٌ قُلتْ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ أَنْ تُرَانِي حَلِيْلَةَ جَارِكَ. (رواه مسلم: ١٤١)[١]
Terjemahan
Hadis dari Abdullah dia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah SAW, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah SWT? Rasulullah SAW menjawab: kamu membuat tandingan bagi Allah SWT (syirik), sedangkan Dialah yang menciptakanmu. Aku berkata: sesungguhnya dosa demikian memang besar. Kemudian apa lagi? Nabi SAW bersabda: kemudian kamu membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersamamu. Aku bertanya lagi, kemudian apa lagi? Rasulullah SAW bersabda: kamu berzina dengan isteri tetanggamu. (HR Muslim: 141)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang tiga dosa terbesar di sisi Allah SWT, yaitu syirik dengan menyekutukan Allah SWT padahal dia adalah pencipta manusia, membunuh anak karena takut miskin atau kehilangan rezeki, dan berzina dengan istri tetangga. Syirik menjadi dosa paling berat karena bertentangan dengan tauhid, sedangkan membunuh anak menunjukkan hilangnya kepercayaan kepada jaminan rezeki dari Allah SWT dan merendahkan nilai kehidupan manusia. Adapun zina dengan istri tetangga tidak hanya merupakan perbuatan keji, tetapi juga mengkhianati kepercayaan serta merusak hubungan sosial. Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga keimanan, menghormati hak sesama, dan memelihara akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi
- Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min al-Sunani bi Naql al-`Adl `an al-`Adl `an Rasulillah, Kitab al-Iman, Bab 37, Hadis nomor 141, (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, 1419 H/1998 M), h. 62.

Komentar 0