40 HADIS LARANGAN DAN ANJURAN NIKAH

DHT

SELAMAT DATANG DI APLIKASI 40 HADIS LARANGAN DAN ANJURAN NIKAH

Silahkan telusuri aplikasi ini untuk menemukan beragam ilmu yang bermanfaat dan mencari informasi tentang 40 hadis larangan dan anjuran nikah.

Tentang Penulis

Ziqri Armino

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

26 Materi Inti

Kumpulan materi, matan hadis, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS LARANGAN DAN ANJURAN NIKAH

Penyusun: Ziqri Armino

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Anjuran Membaca Doa sebelum Mendatangi Istri di Malam Pertama

Disusun oleh: Ziqri Armino (@zikriarmino) · Bagian dari 40 HADIS LARANGAN DAN ANJURAN NIKAH

Hadis

عن ابنِ عبَّاسٍ قال: قال النَّبيُّ رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ: "أمَا لَوْ أنَّ أَحَدَكُمْ يقولُ حينَ يأتي أهلَهُ: بِسْمِ الله، اللهمَّ جَنِّبْنَا الشَّيطانَ، وجَنِّبِ الشَّيطانَ ما رَزَقْتَنَا، ثُمَّ قُدِّرَ بَيْنَهُما في ذلك أو قُضِيَ وَلَدٌ، لم يَضُرَّهُ شيطانٌ أبدًا." (رواه البخاري :٤٨٧٠)[١]

Terjemahan

Hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi SAW bersabda: “Seandainya salah seorang dari kalian ketika akan mendatangi istrinya (bersetubuh) mengucapkan: Bismillah, Allahumma jannibna asy-syayṭana, wa jannibi asy-syayṭana ma razaqtana. (Dengan nama Allah, ya Allah jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami), lalu ditakdirkan dari hubungan itu lahir seorang anak, maka anak itu tidak akan diganggu oleh setan selamanya.” (HR. al-Bukhari: 4870)

Isi kandungan Hadis

Hadis ini mengajarkan doa yang sangat penting yang sebaiknya dibaca oleh suami ketika hendak berhubungan dengan istrinya. Doa ini memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, dan juga agar anak yang mungkin lahir dari hubungan tersebut dijauhkan dari pengaruh setan. Dengan membaca doa ini, diyakini bahwa setan tidak akan dapat mempengaruhi anak yang dilahirkan, memberikan keberkahan dan perlindungan kepada keluarga tersebut.

Referensi

  1.   Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Op.cit., no. 4870.

Komentar 0