Hadis tentang Akibat dari Memakan yang Haram
Hadis
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أُعِيذُكَ بِاللَّهِ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ مِنْ أُمَرَاءَ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِى فَمَنْ غَشِىَ أَبْوَابَهُمْ فَصَدَّقَهُمْ فِى كَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْهُ وَلاَ يَرِدُ عَلَىَّ الْحَوْضَ وَمَنْ غَشِىَ أَبْوَابَهُمْ أَوْ لَمْ يَغْشَ فَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ فِى كَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّى وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَىَّ الْحَوْضَ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ الصَّلاَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ حَصِينَةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ. يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ. (رواه الترمذى: ٦١٧)[1]
Terjemahan
Hadis dari Ka'ab bin 'Ujrah berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku, aku memohon perlindungan kepada Allah untukmu wahai Ka‘ab bin ‘Ujrah dari para pemimpin yang akan datang setelahku. Siapa mendatangi pintu-pintu mereka lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan termasuk golongannya serta ia tidak akan mendatangiku di telaga. Dan siapa mendatangi mereka atau tidak mendatangi mereka lalu ia tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka ia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya serta ia akan mendatangiku di telaga. Wahai Ka‘ab bin ‘Ujrah, salat adalah bukti, puasa adalah perisai yang kuat, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Wahai Ka‘ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan tumbuh daging yang berasal dari harta haram kecuali neraka lebih pantas baginya. (HR al-Tirmidzi: 617)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa tubuh yang tumbuh dari harta yang haram akan membawa seseorang kepada kebinasaan di akhirat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa daging yang tumbuh dari makanan haram lebih layak bagi neraka, sehingga seorang Muslim harus sangat berhati-hati dalam mencari rezeki. Hal ini menunjukkan betapa besar dampak harta haram terhadap kehidupan spiritual dan akhirat seseorang.
Referensi
- Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), Juz 3.h. 52.

Komentar 0