40 HADIS EKOTEOLOGI

DHT

Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Ekoteologi

Ekoteologi merupakan cara pandang yang menghubungkan ajaran agama dengan kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Kata ini gabungan dari ekologi (ilmu tentang lingkungan) dan teologi (ilmu tentang ketuhanan). Lalu, bagaimana hadis Nabi SAW memandang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan? Temukan jawabannya melalui koleksi hadis dalam aplikasi ini.

Foto Milda Yanti Putri

Tentang Penulis

Milda Yanti Putri

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi, matan hadis, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS EKOTEOLOGI

Penyusun: Milda Yanti Putri

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Menyingkirkan Gangguan di Jalan Sebagian dari Iman

Disusun oleh: Milda Yanti Putri (@mildaputri_) · Bagian dari 40 HADIS EKOTEOLOGI

Hadis

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ. (رواه مسلم: ١٦٢)[١]

Terjemahan

Hadis Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: iman itu ada tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan Laa Ilaaha Illallahu  (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu itu adalah sebagian dari iman. (HR Muslim: 162)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan tentang iman memiliki banyak cabang dan salah satu yang paling sederhana, namun penting adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Ditinjau berdasarkan perspektif ekoteologi, hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kebersihan dan keselamatan lingkungan publik merupakan bagian integral dari keimanan. Tindakan kecil seperti membersihkan jalan mencerminkan tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mencegah mudarat bagi makhluk lain, sehingga menjadi wujud nyata iman dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi

  1. Abu al-Husein Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Mesir: Maktabah al-Shafa, 2004), Juz 1, h. 46.

Komentar 0