Hadis tentang Wanita yang Ditalak Ba'in dan Wanita yang Ditinggal Mati Suaminya Boleh Keluar di siang hari
Hadis
أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا طُلِّقَتْ خَالَتِي فَأَرَادَتْ أَنْ تَجُدَّ نَخْلَهَا فَزَجَرَهَا رَجُلٌ أَنْ تَخْرُجَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلَى فَجُدِّي نَخْلَكِ فَإِنَّكِ عَسَى أَنْ تَصَدَّقِي أَوْ تَفْعَلِي مَعْرُوفًا.(رواه مسلم: ٥٥)[1]
Terjemahan
Abu Az-Zubair telah mengabarkan kepadaku bahwa dia pernah mendengar Jabir bin Abdullah berkata: bibiku dicerai oleh suaminya, lalu dia ingin memetik buah kurma, namun dia dilarang oleh seorang laki-laki untuk keluar rumah. Setelah itu istriku mendatangi Rasulullah SAW untuk menanyakan hal itu, maka Rasulullah menjawab: "ya, boleh petiklah buah kurmamu, semoga kamu dapat bersedekah atau berbuat kebajikan."(HR Muslim; 55).
Isi Kandungan hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa wanita yang sedang menjalani masa iddah talak tetap diperbolehkan keluar rumah apabila ada keperluan yang dibenarkan, seperti bekerja atau mengurus kebun kurma miliknya. Rasulullah SAW membolehkan hal tersebut karena mengandung manfaat dan kebaikan, seperti bersedekah dan membantu orang lain. Hadis ini juga menunjukkan bahwa Islam memberikan kemudahan serta tidak memberatkan wanita dalam menjalani masa iddah selama tetap menjaga adab dan ketentuan syariat.
Referensi
- Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-Mukhtasar min as-Sunani bi Naql al-`Adl `an al-`Adl `an Rasulillah, (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, 1419 H/1998 M), Juz 4, h. 200.

Komentar 0