Hadis tentang Bersyukur Ketika Kenyang dan Sabar Ketika Lapar
Hadis
وَبِهَذَا الْإِسْنَادِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا قُلْتُ لَا يَا رَبِّ وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا وَقَالَ ثَلَاثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَفِي الْبَاب عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ وَالْقَاسِمُ هَذَا هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَيُكْنَى أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَيُقَالُ أَيْضًا يُكْنَى أَبَا عَبْدِ الْمَلِكِ وَهُوَ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ مُعَاوِيَةَ وَهُوَ شَامِيٌّ ثِقَةٌ وَعَلِيُّ بْنُ يَزِيدَ ضَعِيفُ الْحَدِيثِ وَيُكْنَى أَبَا عَبْدِ الْمَلِكِ.(رَوَاهُ التِّرْمِذِيِّ: ٢٢٧٠)[1]
Terjemahan
Dan dengan sanad yang sama dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Rabbku menawarkanku untuk merubah padang pasir Makkah menjadi emas, aku berkata: Rabb, aku hanya ingin kenyang sehari dan lapar sehari beliau mengucapkan sebanyak tiga kali atau sepertinya, bila aku lapar aku menundukkan diri pada-Mu dan mengingat-Mu, dan bila aku kenyang aku bersyukur padaMu dan memujiMu.” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan. Dalam hal ini ada hadits serupa dari Fadlalah bin ‘Ubaid dan Al Qasim ini adalah Ibnu Abdurrahman, kuniahnya Abu Abdurrahman, dan dikatakan juga kuniahnya Abu ‘Abdul Malik, ia adalah budak Abdurrahman bin Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah, ia orang Syam, terpercaya, sementara ‘Ali bin Yazid adalah perawi yang lemah haditsnya, kuniahnya Abu ‘Abdul Malik. (HR. Tirmidzi 2270).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW lebih mengutamakan kedekatan dengan Allah SWT daripada kemewahan dunia. Meskipun Allah SWT menawarkan kepada beliau kekayaan yang sangat besar, Rasulullah SAW memilih kehidupan yang sederhana agar dapat merasakan berbagai keadaan. Ketika lapar, beliau semakin merendahkan diri, berdoa, dan mengingat Allah SWT, sedangkan ketika memperoleh kecukupan, beliau memuji dan bersyukur kepada-Nya. Sikap ini menunjukkan bahwa setiap keadaan dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, hadis ini mengajarkan bahwa syukur tidak bergantung pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada kesadaran bahwa setiap nikmat berasal dari Allah SWT. Seorang muslim hendaknya bersabar ketika menghadapi kesulitan dan bersyukur ketika memperoleh kelapangan. Dengan demikian, hati akan senantiasa terhubung kepada Allah SWT, terhindar dari sikap berlebihan dalam mencintai dunia, serta terdorong untuk menjalani kehidupan dengan penuh qanaah, tawaduk, dan rasa syukur atas segala ketetapan-Nya.
Referensi
1. Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), Juz 4, h. 562.

Komentar 0