40 HADIS SYUKUR

DHT

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur

Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur menyajikan kumpulan hadis pilihan mengenai syukur kepada Allah SWT. Aplikasi ini membantu pengguna memahami keutamaan, manfaat, dan cara menerapkan sikap syukur dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW.

Tentang Penulis

M. Farhan Maulana

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi, matan hadis, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SYUKUR

Penyusun: M. Farhan Maulana

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Menerima Pemberian diiringi dengan Sikap Bersyukur

Disusun oleh: M. Farhan Maulana (@Farhan) · Bagian dari 40 HADIS SYUKUR

Hadis 

حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ فَقَالَ عِنْدِي خَيْرٌ يَا مُحَمَّدُ إِنْ تَقْتُلْنِي تَقْتُلْ ذَا دَمٍ وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ مِنْهُ مَا شِئْتَ فَتُرِكَ حَتَّى كَانَ الْغَدُ ثُمَّ قَالَ لَهُ مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ قَالَ مَا قُلْتُ لَكَ إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ فَتَرَكَهُ حَتَّى كَانَ بَعْدَ الْغَدِ فَقَالَ مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ فَقَالَ عِنْدِي مَا قُلْتُ لَكَ فَقَالَ أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ فَانْطَلَقَ إِلَى نَجْلٍ قَرِيبٍ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ يَا مُحَمَّدُ وَاللَّهِ مَا كَانَ عَلَى الْأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَيَّ وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ دِينٍ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ دِينِكَ فَأَصْبَحَ دِينُكَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيَّ وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ بَلَدٍ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ بَلَدِكَ فَأَصْبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ الْبِلَادِ إِلَيَّ وَإِنَّ خَيْلَكَ أَخَذَتْنِي وَأَنَا أُرِيدُ الْعُمْرَةَ فَمَاذَا تَرَى فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ قَالَ لَهُ قَائِلٌ صَبَوْتَ قَالَ لَا وَلَكِنْ أَسْلَمْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا وَاللَّهِ لَا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٤٠٢٤)[1]

Terjemahan

Sa’id bin Abu Sa’id telah menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan menuju Nejed lalu mereka menangkap seseorang dari Bani Hanifah yaitu Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah, kemudian mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya dan berkata kepadanya: “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?” Ia menjawab: “Wahai Muhammad, aku memiliki apa yang lebih baik, jika engkau membunuh maka engkau telah membunuh yang memiliki darah dan jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, namun jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa saja yang engkau inginkan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya hingga keesokan harinya beliau bertanya: “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” Ia menjawab: “Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah dan jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya hingga keesokan harinya beliau bertanya lagi: “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” Ia menjawab: “Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah dan jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda kepada sahabatnya: “Bawalah Tsumamah!” lalu mereka membawanya ke sebatang pohon kurma di samping masjid, ia pun mandi dan masuk masjid kembali kemudian berkata: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan hanya Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, demi Allah dahulu tidak ada wajah di atas bumi ini yang lebih aku benci selain wajahmu namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai dari pada yang lain, dan demi Allah dahulu tidak ada agama yang lebih aku benci selain dari agamamu namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai di antara yang lain, dan demi Allah dahulu tidak ada wilayah yang paling aku benci selain tempatmu namun sekarang ia menjadi wilayah yang paling aku cintai di antara yang lain, sesungguhnya utusanmu telah menangkapku dan aku hendak melaksanakan umrah maka bagaimana pendapatmu?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya kabar gembira dan memerintahkannya untuk melakukan umrah, ketika ia sampai di Makkah seseorang berkata kepadanya: “Apakah engkau telah murtad?” Ia menjawab: “Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan demi Allah tidaklah kalian akan mendapatkan gandum dari Yamamah kecuali dengan izin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari 4024).

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan bahwa akhlak mulia, kelembutan, dan kasih sayang Rasulullah SAW mampu melunakkan hati seseorang hingga menerima hidayah Allah SWT. Tsumamah bin Utsal yang semula memusuhi Islam akhirnya memeluk Islam setelah menyaksikan sikap penuh kebijaksanaan dan kemurahan hati Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang baik dan penuh hikmah dapat menjadi sarana dakwah yang sangat efektif. Hadis ini juga mengajarkan pentingnya memiliki sifat syukur atas setiap kebaikan yang diterima. Tsumamah menyatakan bahwa apabila ia dibebaskan, ia akan menjadi orang yang bersyukur. Setelah memperoleh kebebasan dan hidayah, ia membuktikan rasa syukurnya dengan memeluk Islam, mengucapkan syahadat, serta menunjukkan kesetiaan kepada Rasulullah SAW. Syukur tidak hanya diwujudkan dengan ucapan, tetapi juga melalui perubahan sikap, keimanan, dan ketaatan kepada Allah SWT. Hadis ini mengandung pelajaran bahwa hidayah merupakan karunia terbesar dari Allah SWT. Seseorang yang sebelumnya membenci Islam dapat berubah menjadi seorang mukmin yang mencintai Allah SWT, Rasul-Nya, dan ajaran Islam. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa bersyukur atas nikmat iman serta memohon kepada Allah SWT agar diberikan keteguhan hati dalam menjalankan ajaran-Nya.

Referensi

1. Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, Sunan al-Tirmiżī (Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 1999), Juz 5, h. 399.

Komentar 0