Hadis tentang Nikmat yang Disyukuri Bernilai Seperti Ibadah yang Dijalani dengan Sabar
Hadis
عَنْ سِنَانِ بْنِ سَنَّةَ الْأَسْلَمِيِّ صَاحِبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ. (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ: ١٧٥٥)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Sinan bin Sannah Al Aslami seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Orang yang makan lagi bersyukur akan mendapat pahala seperti seorang yang berpuasa lagi bersabar.” (HR. Ibnu Majah 1755).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengajarkan bahwa syukur atas nikmat Allah SWT memiliki kedudukan yang sangat mulia. Seseorang yang menikmati makanan dan minuman yang halal kemudian menyadari bahwa semua itu merupakan karunia Allah SWT, lalu memuji-Nya serta menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan, akan memperoleh pahala yang besar. Rasulullah SAW bahkan menyamakan pahala orang yang makan dengan penuh syukur dengan pahala orang yang berpuasa dengan penuh kesabaran. Hal ini menunjukkan bahwa setiap keadaan seorang mukmin dapat bernilai ibadah apabila disertai niat yang ikhlas dan dilandasi ketaatan kepada Allah SWT. Selain itu, hadis ini menegaskan bahwa syukur dan sabar merupakan dua sifat utama yang saling melengkapi dalam kehidupan seorang muslim. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur dengan hati, lisan, dan perbuatannya. Sebaliknya, ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar dan tetap teguh dalam ketaatan. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak hanya dituntut untuk bersabar ketika menghadapi ujian, tetapi juga untuk bersyukur ketika menerima nikmat. Kedua sikap tersebut akan menjadikan seluruh keadaan hidupnya bernilai ibadah dan mendatangkan pahala di sisi Allah SWT.
Referensi
1. Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Yazīd Ibn Mājah al-Qazwīnī, Sunan Ibn Mājah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998), Juz 2, h. 1398.

Komentar 0