Hadis tentang Nasikh Ayat Membayar Fidyah bagi Orang yang Tidak Berpuasa
Hadis
عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ، كَانَ مَنْ شَاءَ أَفْطَرَ وَافْتَدَى، ثُمَّ نُسِخَتْ.(رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ١١٤٥)[1]
Terjemahan
Hadis dari Salamah ibn al-Akwa' RA, ia berkata: Ketika ayat, dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin’ diturunkan, maka siapa yang menghendaki boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah. Kemudian ketentuan itu dihapus. (HR. Muslim: 1145)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan sejarah pensyariatan puasa Ramadan pada masa awal Islam. Ketika ayat dalam Surah Al-Qur'an tentang fidyah pertama kali diturunkan, orang-orang yang mampu berpuasa diberi pilihan antara berpuasa atau tidak berpuasa dengan menggantinya melalui pembayaran fidyah berupa memberi makan seorang miskin. Ketentuan ini merupakan bentuk keringanan pada tahap awal diwajibkannya puasa Ramadan. Namun, setelah itu turun ayat berikutnya yang mewajibkan puasa Ramadan bagi setiap Muslim yang mampu dan tidak memiliki uzur syar'i. Dengan demikian, pilihan untuk meninggalkan puasa dan menggantinya dengan fidyah bagi orang yang mampu telah dihapus (dinasakh). Adapun fidyah tetap berlaku bagi orang-orang yang memang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti orang lanjut usia yang lemah atau penderita sakit kronis yang tidak memiliki harapan sembuh. Hadis ini menunjukkan bahwa syariat Islam diturunkan secara bertahap untuk memudahkan umat dalam menerima dan melaksanakan hukum-hukum Allah.
Referensi
- Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Al-Jami’ al-Musnad as Sahih al-Mukhtasar Min as-Sunan Bi Naql al-’Adl ’an al-’Adl ’an Rasulillah (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2006).,h.442

Komentar 0