Hadis tentang Pengaruh Maksiat terhadap Keimanan dan Kembalinya Iman dengan Taubat
Hadis
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَزْنِي الْعَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَقْتُلُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ». قَالَ عِكْرِمَةُ: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: كَيْفَ يُنْزَعُ الْإِيمَانُ مِنْهُ؟ قَالَ: هَكَذَا، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ ثُمَّ أَخْرَجَهَا، فَإِنْ تَابَ عَادَ إِلَيْهِ هَكَذَا، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ. (رواه البخاري: ٦٤٢٤).
Terjemahan
Hadis dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba tidak berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, tidak mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tidak meminum khamar ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman, dan tidak membunuh ketika ia membunuh dalam keadaan beriman.” Ikrimah berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, “Bagaimana iman itu dicabut darinya?” Ibnu Abbas menjawab sambil menyilangkan jari-jarinya lalu melepaskannya, “Seperti ini.” Kemudian beliau berkata, “Apabila ia bertaubat, maka iman itu kembali kepadanya seperti ini,” lalu beliau menyilangkan jari-jarinya kembali.” (HR Bukhari: 6424).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa ketika seseorang melakukan dosa besar, kesempurnaan imannya berkurang dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya dalam mencegah kemaksiatan. Namun, dosa tersebut tidak menjadikannya keluar dari Islam. Jika ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka keimanan yang melemah itu akan kembali dan menguat dalam dirinya. Hadis ini menunjukkan eratnya hubungan antara keimanan, amal, dan taubat dalam kehidupan seorang muslim.

Komentar 0