Hadis tentang Sabar atas Kehilangan sebagai Jalan ke Surga
Haadis
عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى لِعَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ إِذَا ذَهَبَ بِصَفِيِّهِ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ فَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ وَقَالَ مَا أُمِرَ بِهِ بِثَوَابٍ دُونَ الْجَنَّةِ (رواه النسائي: ١٨٤٨)[1]
Terjemahan
hadis ini, dari kakeknya, yaitu Abdullah bin Amr bin Al-'Ash, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah tidak meridhai bagi hamba-nya yang mukmin, apabila Dia mengambil orang yang sangat dicintainya dari penduduk bumi, lalu ia bersabar dan mengharap pahala, kecuali balasannya adalah surga. (HR An-Nasa'i: 1848)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan sabar ketika menghadapi musibah kehilangan orang yang dicintai. Seorang mukmin yang tetap bersabar, mengharap pahala dari Allah, dan mengucapkan kalimat yang diajarkan syariat seperti “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn”, maka Allah menjanjikan balasan yang sangat agung, yaitu surga. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran dalam menghadapi kematian keluarga atau orang tercinta merupakan amalan yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.Selain itu, hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus menerima takdir Allah dengan penuh keimanan. Kehilangan bukanlah tanda kebencian Allah, tetapi bisa menjadi ujian untuk mengangkat derajat hamba-Nya. Orang yang mampu menahan diri dari keluh kesah yang berlebihan dan tetap berharap pahala kepada Allah akan memperoleh ganjaran besar di akhirat.Hadis ini juga menanamkan nilai tawakal dan ridha terhadap ketentuan Allah. Kehidupan di dunia bersifat sementara, sedangkan surga adalah balasan abadi bagi orang-orang yang beriman dan bersabar. Karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperkuat iman dan kesabaran ketika menghadapi musibah.
Referensi
- ahmad ibn Shuʿayb al-Nasa'ī, Sunan al-Nasa'ī, Kitāb al-Jana'iz, Bab Thawab Man Ṣabara Wahtasaba, hadis no. 1871

Komentar 0