Hadis tentang Kepemimpinan Orang Bodoh
Hadis
عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. (رواه مسلم: ٦٩٧١)[١]
Terjemahan
Hadis dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata: aku mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: sesungguhnya Allah SWT tidak mencabut ilmu dengan sekali cabutan langsung dari manusia, tetapi Allah SWT mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu mereka ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim: 6971)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa hilangnya ilmu dalam masyarakat terjadi secara bertahap dengan wafatnya para ulama, bukan secara tiba-tiba. Ketika ilmu tidak lagi dibimbing oleh ahlinya, manusia cenderung mengangkat orang-orang yang tidak berilmu sebagai pemimpin atau pemberi fatwa, yang akhirnya menimbulkan kesesatan dan menyesatkan orang lain. Oleh karena itu, hadis ini menekankan pentingnya menjaga keberadaan ulama, menuntut ilmu dari sumber yang benar, serta berhati-hati dalam mengikuti pendapat agar tidak terjerumus dalam kesalahan.
Referensi
- Al-Imam Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min as-Sunan bi Naql al-'Adl an Rasulullah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), Jilid 8, h. 60

Komentar 0